The Years of The Voiceless

Resource: Booknivore

Writer: Evita MF

Judul: The Years of the Voiceless

Penulis: Okky Madasari

Penerjemah: Nurhayat Idriyanto Mohamed

Tebal: 272 halaman

Tahun terbit: cetakan kedua, Oktober 2016

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

“I had no dreams handed down to me from my parents except to be able eat each day. But I had hopes and dreams.”

The Years of the Voiceless merupakan judul terjemahan dari novel “Entrok” karya Okky Madasari. Novel yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris ini merupakan karya Okky yang pertama. Mengambil latar waktu pada tahun 1950-1999, novel ini banyak mengupas tentang diskriminasi, penindasan dan pemaksaan oleh orang-orang yang berkuasa dan bersenjata.

Diceritakan melalui dua sudut pandang yaitu Sumarni dan Rahayu, novel ini mengisahkan tentang dua jaman yang berbeda. Berbeda jaman tentunya berbeda pemikiran pula. Marni seorang gadis jawa yang buta huruf dan tak mengerti tentang agama. Ia melakukan ibadah sebagaimana leluhurnya beribadah. Ia selalu berdoa kepada benda-benda mati dan memberikan sesaji kepada leluhur. Ibunya pernah berkata bahwa bisa makan setiap hari saja harusnya mereka bisa bersyukur, namun Marni berbeda pemikiran dengan orang-orang pada jamannya. Ia tak ingin cuma bisa makan setiap hari, ia ingin punya bra (entrok), punya uang dan hidup kaya raya agar anaknya kelak dapat bersekolah dan tidak merasakan kemiskinan seperti dirinya. Ia pun tak tinggal diam, ia bekerja keras setiap hari demi bisa mewujudkan mimpinya.

Advertisement

Sementara Rahayu, anak Marni satu-satunya, adalah gadis modern yang mengerti cara membaca dan mengerti agama. Ia membenci apa yang dilakukan ibunya. Semua orang di desa mengatakan bahwa ibunya memiliki tuyul dan melakukan pesugihan agar bisa kaya. Rahayu sudah mengatakan pada ibunya bagaimana beribadah yang benar dan memintanya berhenti bekerja dengan cara yang tidak benar, namun ibunya punya pendiriannya sendiri. Ia selalu merasa apa yang diajarkan leluhurnya dan pekerjaan yang dilakukannya adalah benar.

“I gave thanks that I, an illiterate person, had a child who was so well educated. Just as educated as the children of the ward chief of the teachers.”

Marni dan Rahayu selalu berbeda pendapat, namun ada satu hal yang membuat mereka satu suara. Mereka sama-sama merasakan kekejaman dari orang-orang yang berkuasa. Penindasan dan pemaksaan pada orang yang lemah dan tak punya apa-apa terjadi di mana-mana. Okky pandai sekali dalam menggambarkan peristiwa yang terjadi di masa itu. Pembaca dibuat geram dan simpati pada ketidakadilan dalam lembar-lembar dalam novel ini.

Penulis juga sangat piawai dalam menuliskan tentang masalah adat, kebiasaan, dan budaya masyarakat Jawa pada rentang waktu 1950-1999. Adanya bahasan tentang Tuyul dan Pesugihan mengingatkan pembaca pada perbuatan bid’ah yang dilarang oleh agama. Serta penindasan dan pemaksaan oleh sekolompok orang yang berkuasa pun Okky tuliskan tak tanggung-tanggung. Melalui novel ini, pembaca dapat merasakan betapa sulitnya hidup saat yang berkuasalah yang menang.

Yang menarik dalam novel ini adalah The Years of the Voiceless mengangkat beberapa tema besar seperti feminisme, pluralisme, sosial dan politik. Walau mengusung banyak tema, hebatnya Okky dapat menyatukan tema-tema besar tersebut menjadi cerita yang luar biasa. Setiap bagiannya dapat diceritakan dengan baik dan mendapat porsi yang sama. Seperti diawal novel, masalah feminisme terlihat sekali. Dimana pada masa itu, wanita bekerja hanya dibayar dengan makanan sementara laki-laki dibayar dengan uang. Marni juga ingin dibayar dengan uang oleh karena itu ia bekerja menjadi pengangkut barang di pasar sama seperti laki-laki lainnya.

Dua karakter utama dalam novel ini, Marni dan Rahayu memiliki karakter yang kuat hingga membuat dua karakter ini berbeda dari tokoh buku yang pernah ada. Marni dan Rahayu memiliki pemikiran dan pendirian yang berbeda, hal inilah yang membangun alur cerita. Marni digambarkan sebagai wanita buta huruf yang punya impian. Ia tak hanya bermimpi tapi juga berusaha mewujudkannya. Ia menjadi satu-satunya wanita di Singget yang paling kaya dan dapat menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi. Walau pembaca harus sepakat bahwa beberapa hal yang dilakukannya salah, namun Okky dapat membuat pembaca simpati pada kelemahan dan kekurangan Marni. Sementara itu Rahayu, gambaran wanita modern yang pandai dan tahu agama, ia tak ingin diam saja untuk hal-hal yang menurutnya salah. Ia berjuang untuk orang-orang yang butuh pendidikan dan agama, serta membantu orang-orang yang lemah. Ia meninggalkan ibunya dan pergi mencari apa yang menurutnya benar.

“Rahayu was still Rahayu. My daughter with a heart harder than stone. At least a rock got weathered down over time by water, but Rahayu’s heart would never give in, not even to the woman brought her into the world. Getting an education had made her even more stubborn. She always felt that she knew best and that she was right.”

Membaca The Years of the Voiceless begitu berkesan bagi pembaca. Novel ini tak hanya diceritakan dalam rentang satu atau dua tahun saja namun diceritakan dalam rentang 50 tahun. Perbedaan generasi dan pemikiran, perubahan kebutuhan pada jamannya, dan perubahan kekuasaan menjadi daya tarik cerita. Sebuah novel yang dengan tepat menggambarkan tentang kehidupan masyarakat Indonesia, mulai dari rakyat kecil hingga yang berkuasa. Sebuah novel bergenre realis yang sangat layak untuk Anda coba baca!

Serang, 12th October 2017

With love, EMF

Scroll to Top