Ardian Hafidz Annafi, Siswa Cerdas SMA Pradita Dirgantara yang Diterima di 7 Kampus Luar Negeri

ardian siswa alumni pradita dirgantara

TIMESINDONESIA, JAKARTA – SMA Pradita Dirgantara terus menghasilkan lulusan berprestasi yang membanggakan. Kali ini, sosok berprestasi itu hadir pada siswa Ardian Hafidz Annafi (18).

Siswa asal Boyolali, Jawa Tengah ini berhasil lolos di tujuh perguruan tinggi luar negeri jajaran kampus top dunia.  Bahkan, ia mendapatkan beasiswa penuh untuk kuliah di universitas impiannya. Ardian juga mendapat bantuan dari pemerintah berupa biaya hidup. Seluruhnya ditanggung oleh Beasiswa Indonesia Maju dari Kementerian, Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Tujuh kampus tersebut tersebar di Kanada, Selandia Baru, dan Australia. Masing-masing menempati peringkat top 100 dan top 200 dunia versi QS World University Rankings (WUR).

Kampus-kampus tersebut yakni University of Toronto (peringkat 26 dunia), University of British Columbia (peringkat 46 dunia), The University of Western Australia (peringkat 93 dunia), Wageningen University (peringkat 123 dunia), University of Otago dan Curtin University (keduanya peringkat 194 dunia), dan Victoria University of Wellington (peringkat 236 dunia).

“Saya awal-awal daftar beasiswa itu saya yakin mau ambil UBC (University of British Columbia). Tapi mendekati waktu milih itu, Bu Ajeng–guru yang membimbing saya–itu bilang kenapa nggak mempertimbangkan UoT (University of Toronto), soalnya UoT itu kayak reputasinya itu tinggi, reputasinya itu bagus di dunia pendidikan,” tutur Adrian seperti dikutip dari detik, Kamis (12/5/2022).

“Tapi setelah saya cari-cari saya memutuskan buat ke UBC, soalnya UBC itu punya research unit di bidang mineral yang bagus lah daripada di UoT,” sambungnya.

Ardian sebelumnya tidak menduga bisa lolos ditujuh kampus terkenal dunia. Apalagi dirinya tidak merasa sebagai siswa spesial. Sejak SMP ia tidak terlalu aktif dalam organisasi maupun kegiatan lomba. Bahkan, ia menyebut tidak ada kegiatan istimewa yang ia lakukan. Kegiatan utamanya hanya belajar tekun dan membaca buku di rumahnya atau mengunjungi perpustakaan daerah.

“Tapi saya memang mempunyai impian untuk pergi ke luar negeri,” ucapnya.

Ardian sadar, untuk bisa kuliah ke luar negeri kuncinya adalah pintar dan mencari beasiswa. Ia sadar, Ayahnya yang seorang seorang tukang bangunan dan ibunya membuka jasa laundry di rumahnya tidak akan cukup membiayai sekolah ke luar negeri jika tidak ada beasiswa.

Untuk itu, Se=stelah lulus SMP< Ardian kemudian mendaftar ke SMA Pradita Dirgantara, sekolah asrama yang berada di bawah Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU). Ardian meyakini, sekolah ini menerapkan jadwal yang ketat layaknya militer dan untuk masuk harus menjalani serangkaian seleksi yang ketat bisa mengantarkannya kuliah ke luar negeri.

“Orang tua saya juga dukung saya untuk apapun yang saya mau. Soalnya teman-teman saya itu kaya ada harapan dari orang tua kalau mereka itu diarahin ke mana. Jadi mereka kaya punya kebebasan sendiri seperti yang saya punya,” terangnya.

Setelah diterima di SMA Pradita Dirgantara, Ardian semakin terasah kemampuan akademiknya. Ia juga merasa berada di tempat yang tepat karena fasilitas di sekolah mampu membuatnya belajar maksimal dan fokus.

Menurutnya, lingkungan belajar di SMA Pradita Dirgantara sangat mendukung proses belajar dan aktivitas untuk pengembangan dirinya. Sekolah memberikan fasilitas lengkap mulai dari laptop macbook air, asrama, laundry, makan semua ditanggung oleh sekolah.

Di kelas 10 Ardian mengikuti ekstrakurikuler Kompetisi Sains Nasional (KSN) Ilmu Kebumian. Ekstrakurikuler ini muaranya untuk mengikuti lomba KSN, sebuah kompetisi nasional bergengsi yang dulu namanya Olimpiade Sains Nasional (OSN). Hasilnya, Ardian memperoleh medali perunggu di KSN Ilmu Kebumian.

Sementara itu, Direktur Pengembangan Sekolah SMA Pradita Dirgantara Dwi Agus Yuliantoro mengatakan, kurikulum yang digunakan SMA Pradit Dirgantara juga tak kalah penting dalam menghasilkan lulusan seperti Ardian ini. Sekolah menerapkan kurikulum Integrated Contextual Learning Program.

“Kurikulum tersebut menggabungkan antara Kurikulum 2013, kurikulum International Baccalaureate, adaptasi Cambridge, kurikulum untuk olimpiade nasional, dan program-program Sustainable Development Goals (SDGs),” ucapnya.

Dwi menjelaskan, standar materi yang harus dicapai siswa di SMA Pradita Dirgantara merupakan standar tertinggi dari kurikulum tersebut.

“Beban belajarnya cukup berat. Bukan dari jumlahnya, tetapi dari level of difficulty-nya (tingkat kesulitannya). Jadi butuh siswa dengan cognitive capacity agar bisa mengikuti pace-nya,” kata Dwi.

Dalam kegiatan belajar mengajar, bentuk penerapan dari kurikulum tersebut seperti dikatakan Ardian, adalah banyak berdiskusi mengenai suatu topik yang dikaji dengan berbagai sudut pandang keilmuan.

Para siswa akan diberikan waktu untuk melakukan presentasi hingga membuat produk yang berkaitan dengan topik tersebut. Di akhir kelas 11, para siswa SMA Pradita Dirgantara akan diberikan tugas proyek yang menggabungkan beberapa mata pelajaran.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top
Scroll to Top