Mengembalikan Peran Guru sebagai Sosok yang Digugu dan Ditiru

Boyolali – Kamis pagi, (25/11/2021) suasana SMA Pradita Dirgantara (SMA PD) masih terlihat lengang. Beberapa siswa hilir mudik, bersiap apel pagi yang biasa rutin dilakukan tiap hari. Para guru dan civitas lainnya tidak sadar kalau pagi ni akan jadi Kamis haru, penuh iringan tangis bangga sekaligus bahagia. Ya, hari ini adalah Hari Guru Nasional.

***

Akhirnya kejutan itu tiba. Ratusan siswa kelas X, XI, dan XII menyeruak ke tengah lapangan. Mereka bersama-sama berjoget kompak dan menyanyikan lagu berjudul anak sekolah yang populer dinyanyikan alm. Chrisye.

Kejutan belum berhenti. Tiba-tiba siswa mengeluarkan setangkai bunga mawar yang telah mereka siapkan sejak Subuh. Mawar itu mereka berikan satu persatu ke setiap guru. Sesaat kemudian, Ketua OSIS SMA PD muncul, Abi, ia melakukan orasi menyentuh yang membuat para guru melelehkan air mata.

 

Guru, Figur yang Digugu dan Ditiru

Kita semua pasti sepakat bahwa guru memiliki posisi yang agung. Ia begitu mulia, entah itu di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Di sekolah, ia jadi sosok paling dicari dan jadi teladan bagi siswa. Demikian juga di masyarakat, guru memiliki tempat tersendiri dan seringkali sosok penasehat di beberapa hal.

Posisi yang begitu dihormati ini tentunya ada asal muasalnya. Tagline guru, “digugu dan ditiru” benar-benar melekat pada sosok seorang guru. Bahkan masyarakat tidak peduli dengan mata pelajaran apa yang diampu oleh si guru. Selama ia berprofesi sebagai guru, ia selalu jadi andalan masyarakat.

Ungkapan digugu dan ditiru juga memiliki makna yang sangat mendalam. Digugu, artinya selalu dipercaya dan ditiru artinya segala perilakunya selalu jadi teladan. Oleh karena itu, segala penyampaian dari seorang guru harus menumbuhkan keyakinan kepada setiap orang yang mendengarnya. Segala tindak-tanduknya juga harus menjadi contoh bagi siswa dan masyarakat

Kemampuan guru untuk bisa digugu dan ditiru berhubungan erat dengan 4 kompetensi yang minimal harus dimiliki seorang guru. Diantaranya adalah kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Jika keempat kompetensi tersebut benar-benar dimiliki si guru, maka predikat digugu dan ditiru ini akan dengan sendirinya melekat dan menjadi identitas si guru.

Ironisnya, masih saja terjadi kekerasan terhadap siswa didik yang dilakukan oleh guru. Untuk membuktikannya, sangatlah mudah. Di mesin pencari google, tersebar luas berita-berita mengenai kekerasan yang dilakukan seorang guru.

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana mungkin guru menjadi teladan jika ia melakukan kekerasan terhadap siswa didiknya. Krisis keteladanan seperti inilah yang sudah sepatutnya segera dicarikan jalan keluar.

Seorang guru juga harus memiliki kepribadian yang dewasa, luhur, berakhlak mulia, dan tidak mengenal pamrih. Bahkan ada ungkapan, guru yang baik adalah guru yang tidak menganggap dirinya adalah guru. Namun, ia memiliki pandangan bahwa siswa didiknya adalah guru kehidupannya. Ibarat ilmu tasawuf, ia menjadi profesinya sebagai gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi/pamrih).

Untuk seluruh guru di SMA PD, tetaplah setia mendampingi siswa di sekolah ini. Jadilah pelita bagi negeri ini.

Selamat Hari Guru Nasional 2021.

Author : Widya Yuni Lestari

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top
Scroll to Top